Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Desember 06, 2012

Cerita tentang Liburan


Tulisan ini untuk melunasi hutang saya yang bertumpuk-tumpuk di #ngeblogramerame :D *jedheeeer*. Jadi, beberapa minggu yang lalu #ngeblogramerame mengambil tema tentang perjalanan paling berkesan. Sempat, ingin bercerita mengenai perjalanan saya sewaktu mengikuti pelatihan mengenai tanaman obat tradisional di Makassar pada tahun 2011 yang lalu, karena sejujurnya itulah perjalanan pertama saya ke Pulau Sulawesi. Namun, sayangnya saat itu saya tidak membawa kamera sehingga tidak dapat melakukan aksi narsis berfoto-foto diri di sana dan dalam keyakinan saya, tulisan tentang perjalanan ke suatu daerah tanpa adanya foto - foto itu bagaikan sayur tanpa garam, hambar, kurang terasa geregetnya :D. 

Lalu dua hari yang lalu, ketika sedang merapikan file-file di laptop, tanpa sengaja saya menemukan folder yang berisi foto-foto liburan dadakan kami sekeluarga (saya, mama dan adik) pada tahun 2009 lalu. Dan AHA! *lampu menyala di kepala layaknya film-film kartun* :P, mengapa tidak saya tulis saja cerita mengenai ini?

Tahun 2009, menjelang hari raya Idul Adha, saya telah menyelesaikan kewajiban koass saya, hanya tinggal menunggu untuk masuk magang (internship), jadi otomatis saya punya banyak waktu luang. Dua hari menjelang idul adha, mama menelpon mengabari bahwa mama akan merayakan idul adha bersama kami di Jogja karena kebetulan juga saat itu mama baru saja selesai mengikuti pelatihan di Bogor. Jadi, dalam benak mama, sudah sampai tanah Jawa ini ya tanggung kan kalau gak dilanjutkan ke Jogja untuk mejenguk anak-anaknya tercinta? :p.

Tentu saja, rencana mama ini disambut dengan suka cita oleh saya dan adik, terutama oleh saya yang sudah dua tahun lebaran idul fitri menjadi bang Thoyib (atau neng Thoyib?) *abaikaaaan bagian ini :p*, yang tidak pulang-pulang *hiks*. (Ya, kewajiban koass memaksa saya mau tidak mau harus merayakan lebaran jauh  dari keluarga. Namanya koass lah ya, apalagi koass bagian besar (Anak, Bedah, Dalam, Obsgyn), mana mungkin dapat liburan lebaran yang lama. Lebaran ya tetap harus jaga, gantian sih, kalau dapat jadwal jaga hari pertama, hari kedua libur ataupun sebaliknya. Jadi, daripada buang - buang uang untuk beli tiket pesawat yang harganya selangit dan di luar kewajaran itu, ya saya memutuskan dengan terpaksa untuk lebaran di Purworejo, di tempat tante saya, sepupu dari sebelah mama. Kalau tentang lebaran ini saya curhatkan, mungkin bisa satu blog sendiri kali ya? Jadi mari kita lanjutkan ceritanya :)  

Mama datang sehari sebelum lebaran. Keesokan harinya, seusai melaksanakan solat ied di lapangan AMC (Asri Medical Center) di daerah Wirobrajan, mama mengajak kami ke Kasongan karena mama ingin melihat-lihat gerabah. Hayuklah, saya sendiri walaupun sudah bertahun-tahun tinggal di Jogja juga belum pernah benar-benar pergi ke Kasongan, paling sebatas  lewat dalam perjalanan saya ke Bantul sewaktu koass muda dulu. Ancer-ancer jalannya sedikit banyak saya paham, sisanya kan tinggal mengandalkan penunujuk arah yang ada. Si adek sebagai sopir dan saya navigator (yang buruk :p) karena ternyata kami "sedikit" nyasar :P

Kasongan, kawasan yang terletak di Kabupaten Bantul Jogjakarta, di sini adalah pusat kerajinan tanah liat. Toko-toko yang menjual kerajinan tanah liat bertebaran di kanan/kiri jalan. Saran saya sih, sebelum membeli ada baiknya, untuk melihat-lihat dulu, membandingkan harga setiap toko, dan jangan lupa MENAWAR karena menawar tidak dilarang :P.

Nih, si mama sedang sibuk menawar kendi :)


belakang mama, ada tokoh pewayangan, Semar, Gareng, Petruk :)


Foto ini yang paling saya senangi. Wajah mama tampak berseri-seri. Percaya tidak?Foto ini diambil setahun setelah mama didiagnosis kanker payudara stadium 4 dengan penyebaran jauh ke tulang belakang sehingga mengakibatkan tinggi mama berkurang 10 cm, telah menjalani dua seri kemoterapi. Tapi wajah mama disini masih terlihat cerah seakan mama orang sehat yang tidak menderita sakit apapun :)


Satu set poci teh beserta teko, terbuat dari tanah liat . Lucu kan? :)




Yang ini saya ya..Bukan dari tanah liat :P


Kalau saja Pontianak itu dekat, dan mama tidak perlu membawa barang-barang ini dengan menggunakan pesawat mungkin, mungkin sudah bermacam-macam barang yang mama beli. Untuk saat itu mama harus puas dengan membawa pulang kendi minum dan panci yang terbuat dari tanah liat. Walaupun saya yakin dalam hatinya, mama masih ingin mengangkut barang-barang lain, termasuk pot-pot bunga di belakang foto saya ini :p.

Dari Kasongan, kami melanjutkan perjalanan, ke Bantul. Di sini kami niatnya melakukan wisata pantai (sepanjang pantai Selatan) dari Parangtritis, Krakal, Baron, hanya saja tidak ada fotonya ditambah lagi berhubung kami pergi pada siang hari dan udara di luar sangat panas, jadi acara wisata pantai ini hanya dilakukan dari dalam mobil saja :).

Jogja itu punya paket wisata yang lengkap, dari daerah pantai di selatan kami menuju daerah pegunungan di utara, tepatnya di daerah kaliurang. Di Kaliurang, kami mampir untuk makan siang di Boyong Kalegan. Sebenarnya ada banyak restoran dengan konsep alam di daerah sekitar kaliurang, mulai dari kaliurang bawah (km 7 ).

Saya dan mama ketika di Boyong Kalegan :)


Rencananya sehabis dari makan siang di Boyong Kalegan, kami ingin mengunjungi Ulen Sentalu (semacam musem yang ada di daerah Kaliurang) tapi sayang, seribu sayang, rencana hanya tinggal rencana karena Ulen Sentalu pada hari itu tidak dibuka untuk umum :(.

Perjalanan hari kedua, mama ingin jalan-jalan ke Solo. Baiklaaaah..
Masih dengan adik saya sebagai sopir dan saya sebagai navigator :)
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa foto-foto ini hanya berisi saya dan mama? kemana gerangan adik saya tercinta? Adik saya selain sebagai sopir juga berperan merangkap sebagai juru foto dalam liburan kali ini. Jadi, tidak ada satupun wajahnya yang terekam lensa kamera..hihihihihi

Sebelum ke Solo, kami menyempatkan diri untuk singgah ke Candi Prambanan. Terakhir kami sekeluarga mengunjungi Candi Prambanan itu sewaktu berlibur dengan almarhum papa, kira-kira saat saya masih duduk di bangku SD (sudah lama sekali ya?). Pada saat kami berkunjung, Candi Prambanan dalam masa pemugaran pasca bencana gempa Jogja. Ya, gempa mengakibatkan beberapa kerusakan pada bagian candi. 









Itulah sebagian gambar yang diambil ketika ke Candi Prambanan. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Solo, namun sayang seribu sayang tidak ada foto yang diambil ketika di Solo. Maklum, saat itu si adek sudah dalam keadaan bad mood karena si navigator alias saya berulang kali salah memberikan navigasi....hihihihi. Entah kenapa, berkali-kali kami ke Solo walaupun saya sudah membawa peta, selalu saja berujung dengan nyasar. Niat hati ingin makan sate kambing seperti yang masuk dalam acara wisata kuliner Pak Bondan, ujungnya-ujungnya karena muter-muter gak ketemu akhirnya harus puas dengan makan sate kambing di sekitar Klewer :p. Tetap enak sih, tapi yaaaa sudah sukses membuat si adek capek..hehehehehe

Tulisan ini juga sebagai kenangan saya dengan mama. Tidak ada liburan bertiga lagi, yang ada tinggal saya dan adik. Mungkin ke depannya bila kelak kami sudah saling berkeluarga, kami akan merencanakan liburan bersama dengan anak-anak kami, seperti yang sering kami khayalkan dulu sewaktu mama masih ada. Semoga suatu saat rencana ini benar-benar terwujud. Amin :)

November 29, 2012

Sekali lagi, ini cerita tentang mama


Tulisan ini saya tulis setelah membaca blog @amrazing yang bercerita tentang mama. Cerita @amrazing tentang sang mama sukses membuat saya menangis tanpa henti hingga mata saya bengkak. Emosi saya larut ketika membaca tulisan itu. Mungkin saya memang gampang terharu apabila ini menyangkut tentang ibu. Bagi saya ibu atau yang biasa saya panggil mama adalah sosok yang paling luar biasa, tanpa mengenyampingkan peran penting ayah. Tapi memang demikianlah adanya, sejak papa meninggal pada tahun 2002 lalu, mama adalah tulang punggung keluarga. 

Meskipun alm.papa telah menyiapkan sejumlah dana untuk biaya kuliah saya dan adik, mama masih harus tetap bekerja keras, apalagi biaya kuliah saya di Kedokteran tidak bisa dibilang murah. Saya beruntung berhasil lulus gelombang 1 pada ujian masuk FK, sehingga uang pangkal yang harus dibayar mama tidak terlalu mahal. Tapi yang namanya kuliah di kedokteran tetap membutuhkan biaya, untuk membeli textbook yang harganya ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah, peralatan-peralatan penunjang mulai dari stetoskop, tensimeter, hingga penlight. Mama tidak pernah bilang tidak, ketika saya mengabari saya butuh biaya entah itu untuk membeli buku ataupun peralatan kuliah lainnya. Mama pasti akan menjawab, "iya nanti mama transfer." 

Saya tahu, demi menambah penghasilan, mama sering menjadi pengajar atau narasumber, kebetulan mama bekerja di bidang pemberdayaan perempuan&anak dan terlibat aktif di berbagai organisasi pemberdayaan perempuan. Mama sering mendapat undangan dari kabupaten/kota untuk menjadi narasumber dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan. Honor yang diterima mama sebagai narasumber bisa dibilang sangat lumayan. Tapi untuk itu mama harus sering keluar kota, kadang pagi mama mengajar di Sambas, sore lanjut ke Singkawang, besoknya melanjutkan perjalanan ke Sintang atau kota lainnya. Ketika libur kuliah, saya sering ikut mama bertugas, menjadi asisten mama, membawakan laptop, membuatkan power point presentasi dan menjadi asisten sorot serta juru kamera ketika mama mengajar. Jadi, saya tahu betapa melelahkannya perjalanan mama ke daerah. Tapi mama tidak pernah mengeluh, mama selalu mengatakan semua ini demi kami (saya dan adik) agar kami mendapatkan yang terbaik.

Saya yang sadar betul bagaimana perjuangan mama untuk kuliah saya, selalu berusaha memberikan hasil yang terbaik dalam bidang akademis. Saya rela belajar siang dan malam, bahkan hingga tidak tidur bila musim ujian dan tentamen tiba demi mendapat nilai terbaik.Rasanya jahat sekali, bila saya bermain-main sementara mama bekerja keras membanting tulang. Bahagia rasanya bila mendapat nilai yang baik, untuk diceritakan ke mama, walaupun mama sendiri tidak pernah mengharuskan saya untuk mencapai IPK tertentu. Mama malah sering menasihati saya agar tidak terlalu serius dan ambisius dalam belajar, serta menyempatkan diri untuk bermain. Ah, mama :)

Mama yang ketika kami, saya dan adik kuliah di Jogja harus tinggal sendirian di rumah. Banyak yang bertanya pada mama, kok boleh kedua anaknya kuliah jauh-jauh sementara mama sendirian di Pontianak?
Apa jawab mama waktu itu?Kata mama kalau anakku kudekap terus-terusan,tidak ada jaminan mereka berhasil :). Bahkan saat kondisi kesehatan mama memburuk akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya pun mama tidak memanggil kami pulang. Mama bilang mama akan bertahan, berjuang melawan penyakit ini sekuat tenaga, kalian di sana kuliah saja yang betul, doakan mama dari jauh agar mama selalu sehat. Mama yang menjalani tiap rangkaian kemoterapi seorang diri, yang masih mampu menyetir sendiri ke RS untuk kemoterapi sehingga sering membuat para suster heran karena kondisi mama tidak seperti orang yang mengidap kanker. Mama yang masih bisa tersenyum dan tertawa dalam setiap sesi kemoterapinya menularkan keceriaan kepada teman-teman mama sesama pengidap kanker payudara.

Mama yang benar-benar menunaikan janjinya kepada almarhum papa, untuk menyelesaikan sekolah anak-anak hingga selesai. Seakan mama merasa tugas dan janjinya sudah ditepati, kondisi mama di tahun 2012, tahun dimana saya dan adik sudah lulus kuliah dan berhasil mendapatkan pekerjaan yang mapan, semakin memburuk. Hingga akhirnya pada tanggal 28 Juli 2012 mama berpulang ke Yang Maha Kuasa.
Saya menulis ini sambil menangis, dengan rasa kangen yang luar biasa. Sering saya berharap saya masih diberi sedikit waktu untuk bersama mama, karena sejujurnya saya merasa belum banyak yang saya lakukan untuk membahagiakan beliau. Ada satu keinginan beliau yang ingin sekali saya wujudkan yaitu mengajak beliau ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji atau setidaknya umrah. Mama dulu selalu menunda keinginan pergi ke tanah suci karena masih memikirkan biaya untuk kuliah saya dan adik. Mama pernah bilang nanti saja kalau anak-anak sudah selesai kuliah supaya mama lebih tenang.
Ah mama, begitu besarnya pengorbanan yang mama lakukan untuk kami berdua. Saya tahu tidak saya tidak akan mampu membalasnya, bahkan dengan menghajikan mama dan papa masih tidak membalas apa yang telah mereka lakukan demi kami berdua. Hanya doa yang selalu terkirim agar mama dan papa di sana mendapatkan tempat yang paling indah, paling nyaman, paling istimewa sambil menunggu hingga nanti tiba saatnya kita akan berkumpul lagi sebagai sebuah keluarga. Amiiiin :). 

I love you, both, always :)



Oktober 14, 2012

Kuingin Bunda Bernyanyi Lagi


Lama tak kudengar nyanyian bunda
yang biasa disenandungkan 
memberi warna setiap pagi
menyemarakkan setiap langkah

Lama tak kulihat bibir itu bergerak
menyanyikan lagu-lagu
menghibur hati

Ada apa dengan bunda?
Mengapa tak ada nyanyian itu lagi
Kutahu bunda sedang berduka
Pelita hatinya telah pergi

Tak tahu berapa lama waktu
yang diperlukan untuk menyembuhkan lukanya
Mungkin setahun atau mungkin lebih lama dari itu

Hanya satu doaku
Kuharap Tuhan mendengarnya
Kurindu nyanyian bunda
Kuingin bunda bernyanyi lagi


*ps :
Puisi ini saya buat sepuluh tahun yang lalu, sebagai hadiah ulang tahun ke-43 untuk mama saya. kebetulan hari ulang tahun saya dan mama hanya selisih 1 hari. Mama mempunyai hobi menyanyi. Dulu, hampir setiap malam minggu mama akan berkaraoke di rumah, tidak hanya itu, mama juga sering bernyanyi bahkan saat memasak di dapur sekalipun.

Ketika papa meninggal, suara mama seperti hilang. Mama tidak pernah bernyanyi lagi, bahkan alat karaoke di rumah pun dibiarkan berdebu. Waktu saya tanyai, mama hanya berkata bahwa rasanya berat untuk menyanyi lagi semenjak kepergian papa mama seperti kehilangan separuh dunianya. Kuat dan tegar hanya demi kami anak-anak.

Bertahun-tahun setelah itu, mungkin baru sekitar 2-3 tahun terakhir, saya kembali mendengar nyanyian keluar dari bibir mama. :)

Cerita Tentang Ulang Tahun




Setelah sekian lama berhibernasi, akhirnyaaa #ngeblogramerame kembali lagi. Kali ini temanya adalah tentang ulang tahun. Bercerita tentang ulang tahun, selalu membuat saya tersenyum karena begitu banyak kenangan manis yang saya miliki. Dalam keluarga kami, ada semacam tradisi pada saat salah satu anggota keluarga berulangtahun. Tidak setiap ulang tahun harus dirayakan dengan pesta mewah dan mengundang banyak kenalan, tetapi yang pasti tidak terlewat adalah nasi kuning lengkap dengan segala lauk pauknya mulai dari ayam goreng, abon, telur dadar yang diiris tipis-tipis, kacang, dan timun (laaah malah bikin lapar :p) dan kue ulang tahun. Jangan salah semua itu adalah hasil karya mama saya tercinta, bukan buatan catering ataupun toko roti :).

Biasanya, sehari sebelumnya mama sudah berbelanja segala keperluan untuk membuat nasi kuning dan kue ulang tahun. Kemudian malamnya, mama akan mulai menyiapkan dan membuat kue, untuk kue ini pun mama tidak tanggung-tanggung, dihias rapi dengan tema berbeda-beda setiap tahunnya sesuai dengan permintaan saya. Tema kue ulang tahun yang saya minta biasanya tidak jauh dari putri-putrian seperti barbie, istana, kadang juga boneka. Mama mengerjakan kue ulang tahun ini kadang hingga larut malam agar besok paginya, saat saya terbangun, kue telah siap. Di pagi harinya  sudah terhidang nasi kuning lengkap dan kue ulang tahun di meja makan. Papa memimpin doa, mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya, lalu kami menyantap masakan yang disiapkan mama. Sederhana tapi berkesan :).

Setiap tahun selalu begitu, tapi kadang ada waktunya ulang tahun saya dipestakan dengan mengundang teman, saudara, dan tetangga serta handai taulan. Seingat saya, ada sekitar 4-5 kali ulang tahun saya dipestakan, saat saya umur 5 tahun, 12 tahun (saat kelas 6SD sekaligus juga pesta perpisahan sebelum melanjutkan ke bangku SMP) dan 15 tahun (ini saat kelas 3 SMP, perpisahan sebelum masuk SMA).

Namun, jika ditanya kapan ulang tahun yang paling berkesan dan meninggalkan kenangan mendalam. Saya akan menjawab ulang tahun ke -17. Seperti anak ABG  di Indonesia pada umumnya, usia 17 itu adalah usia sakral. Di usia itu saya bukanlah anak-anak lagi dan sudah memiliki beberapa hak-hak istimewa sebagai warga negara, seperti diperbolehkan untuk membuat SIM, punya KTP, dan mengikuti PEMILU. Bagi kebanyakan remaja, transisi ini dirayakan dengan menyelenggarakan pesta ulang tahun. Begitupun saya saat itu, apalagi saya sudah menerima beberapa undangan ulang tahun sweet seventeen teman-teman sekolah. Tentu saja saya ingin pesta ulang tahun saya tidak hanya berkesan bagi saya tetapi juga bagi teman-teman yang saya undang. Sebulan sebelum hari H, saya telah sibuk memesan tempat, sebuah kafe di jalan Gajahmada (kalau sekarang sih kafenya sudah tutup ;p), tidak lupa juga memesan menu makanan, membuat daftar undangan termasuk gebetan :p, juga menyiapkan para pendukung acara.

Harusnya itu akan menjadi pesta yang meriah.

Tapi ternyata, Tuhan berkendak lain, 19 April 2002, kurang lebih dua minggu sebelum hari ulang tahun, papa tersayang dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk selamanya. Masih lekat di ingatan, dua hari sebelum papa meninggal, tepatnya pada malam minggu, saat kami jalan-jalan bersama, papa bertanya "Mau kado apa apa buat ulang tahun?" "Ri hanya mau papa sehat dan bisa menemani ri pas ulang tahun." jawab saya pada waktu itu. Itulah pembicaraan terakhir saya dengan papa...

Tidak ada pesta mewah, tidak ada acara luar biasa, bahkan juga tidak ada nasi kuning dan kue ulang tahun seperti biasanya. Di usia ke-17 saya kehilangan orang yang paling saya sayangi. Dan karena itu, saya juga harus belajar untuk menjadi dewasa dan kuat terutama bagi mama dan adik saya. Ya, kami semua merasa kehilangan. Saya, yang dulunya adalah anak papa yang manja, kemana-mana selalu diantar papa ataupun sopir kantor, tidak pernah naik kendaaraan umum, tidak bisa mengendarai motor (papa saya terlalu khawatir sehingga menjaga saya terlalu hati-hati seperti porselen :p), akhirnya harus belajar mandiri dan tidak banyak mengeluh.

Sepuluh tahun setelah peristiwa itu, berarti juga ada sepuluh ulang tahun yang saya lalui. Berbagai peristiwa baik pahit maupun manis silih bergati saya alami. Ketika akhirnya saya menjadi dokter seperti impian dan angan-angan papa, mendapat pekerjaan seperti keinginan saya, tapi di sisi lain, tahun ini tepatnya pada tanggal 28 Juli 2012, saya juga harus menghadapi peristiwa pahit saat mama tersayang dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Itulah hidup, pahit dan manis. Sekarang yang bisa saya lakukan adalah bersyukur untuk setiap hari yang diberikan Tuhan untuk saya. Meyakini bahwa apapun yang terjadi pada saya itu karena Tuhan begitu sayang pada saya.

Dan saya pun selalu menganggap bahwa ulang tahun itu adalah hal yang istimewa karena itu artinya saya masih diberi kesempatan untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat dan juga menunjukkan rasa sayang serta membahagiakan keluarga, sahabat, teman dan lingkungan sekitar saya :)




September 16, 2012

Surat Untuk Kekasih Masa Depan









Surat in aku tulis untuk kamu, -siapapun kamu-, jodoh yang telah disiapkan oleh Tuhan untukku di masa depan, aku memang belum tahu kapan nantinya kita akan dipertemukan setelah sekian lama saling mencari satu sama lain. Hmm, apakah sebenarnya kita telah saling bertemu? Apakah kita sudah pernah saling menyapa dan bertukar kata? Mungkinkah sebenarnya keberadaan kamu dan aku begitu dekat, namun identitas kita sebagai pasangan untuk satu sama lain masih disembunyikan oleh Tuhan Sang Maha Pengatur Kehidupan? Mungkin saja, kita toh tak pernah tahu :).

Sayangku, -boleh aku memanggil begitu? :)
Seandainya, kelak kita telah bersama sebagai pasangan tentunya, kumohon jangan pernah merasa rendah diri apalagi merasa tidak berarti apabila pendapatanmu lebih kecil daripada pendapatanku. Hormat dan sayangku kepadamu tidak akan berkurang hanya karena pendapatanmu tidak sebesar pendapatanku. Kamu tetaplah imam bagiku yang akan kuhormati dan kusayangi sepenuh hati. Kewajiban mencari nafkah tetap merupakan tanggung jawab kepala keluarga, jadi asal kamu bekerja keras dan berusaha tanpa kenal lelah, itu sudah cukup bagiku. Rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan dan aku yakin semua orang sudah mempunyai bagiannya masing-masing, dan tidak akan pernah tertukar :). 

Sayangku,
Bila nanti kita bersama, kumohon jangan pernah merasa kesepian dan ditinggalkan ketika aku tidak ada di sampingmu. Mungkin ada malam-malam dimana aku tidak bisa menemanimu karena harus menunaikan tugasku sebagai seorang dokter atau  dering telepon tengah malam dari rumah sakit mengabarkan tentang pasien gawat yang segera memerlukan pertolongan yang mengganggu istirahat kita di tengah malam. Maafkan bila itu semua mengganggumu, tapi untuk kamu tahu aku akan merindukanmu setengah mati di saat-saat aku terpaksa tidak bisa menemanimu dan pengertianmu akan profesiku akan membuatku semakin menyanyangiku.

Sayangku,
Sebagai dokter, aku tidak selalu mengalami hari-hari yang menyenangkan, bahkan lebih seringnya aku melewati hari-hari berat. Menghadapi pasien yang cerewet dan penuh tuntutan (walaupun tidak semuanya dan hanya sebagian kecil saja), mengabarkan berita duka pada keluarga pasien, dan tuntutan pekerjaan yang kadang membuat dadaku terasa sesak. Di saat-saat seperti itu, kamu hanya perlu memelukku tanpa kata-kata. Itu cukup, setidaknya aku tahu bahwa setelah melewati hari yang berat, aku masih punya rumah tempat pulang yang mampu memberikan kehangatan dan kedamaian :).

Sayangku,
Terakhir, kumohon jangan pernah memintaku untuk memilih antara kamu atau pekerjaanku karena keduanya sama-sama aku cintai. Kamu adalah bagian terpenting dari kehidupanku. Begitupun dengan pekerjaanku. Menjadi dokter bukan hanya tentang kebanggaan memakai jas putih dan stetoskop yang dikalungkan di leher. Bagiku menjadi dokter adalah juga menunaikan janji dan amanah kepada kedua almarhum orangtuaku.   Dari dulu papaku sangat ingin melihat putrinya menjadi seorang dokter. Beliau bekerja keras, menabung setiap rupiah penghasilan yang diperolehnya agar bisa menyekolahkanku di kedokteran. Masih lekat di ingatan, bagaimana berserinya wajah beliau ketika mendengar aku yang sebelumnya menolak masuk FK, akhirnya mau menjadi dokter. Namun, sayang papa sendiri belum sempat melihatku ketika akhirnya aku berhasil disumpah menjadi seorang dokter. Begitupun dengan mamaku, yang setelah papa meninggalkan kami (aku dan adikku) mengambil tanggung jawab menjadi kepala keluarga, yang juga bekerja siang dan malam berusaha memenuhi kebutuhanku yang tidak bisa dikatakan murah sebagai mahasiswa kedokteran, bahkan dalam kondisi kanker yang tumbuh perlahan demi perlahan di tubuhnya. Untuk merekalah, aku berusaha keras, aku tidak ingin mengecewakan mereka, aku ingin di atas sana mereka bisa tersenyum bahagia karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Aku ingin menjadi dokter yang baik seperti doa yang selalu mama lantunkan setiap malam, menjadi dokter yang ramah, yang disayangi pasiennya, yang dengan pekerjaan ini menjadi ladang amal bagiku. Untuk itulah aku mohon jangan pernah memmbuatku memilih antara kamu atupun pekerjaanku. Aku tidak bisa karena keduanya begit berarti.

Sayangku, sekian dulu surat dariku. Maafkan bila kedengarannya aku terlalu banyak meminta :).
Dan, semoga kita segera dipertemukan :)



September 06, 2012

One True Thing, Sebuah Review


Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali menulis lagi. Salahkan kue lapis yang membuat saya lebih ingin mengunyah, salahkan koneksi internet yang membuat gerah, salahkan juga pulsa internet yang ternyata habis, yang penting jangan salahkan saya yang malas ini :D.

Baiklah, kali ini saya ingin membuat review film yang sangat menarik menurut saya. Rencana membuat review film ini sudah ada di benak saya berminggu-minggu yang lalu sejak pertama kali saya menonton film ini di HBO pada hari kedua lebaran, tapi apa daya karena keterbatasan pulsa dan alasan-alasan yang saya sebutkan di atas keinginan saya untuk menulis baru tersalurkan hari ini.






Film ini merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Anna Quindlen, disutradarai oleh Carl Franklin dan dibintangi oleh bintang-bintang dengan kemampuan akting yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Merryl Streep, Renee Zellweger, William Hurt, dan Tom Everett Scott. Bercerita tentang sebuah keluarga yang harus menghadapi kenyataan ketika sang ibu didiagnosis kanker.
Renee Zellweger disini berperan sebagai Ellen putri tertua keluarga ini, yang bekerja di New York Magazine, sangat mengagumi sang ayah, seorang dosen dan penulis novel. Merryl Streep berperan sebagai Kate, seorang ibu rumah tangga tulen yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarganya, dan si bungsu Bill yang masih berkuliah di Harvard.

Konflik bermula ketika sang ibu didiagnosis menderita kanker dan harus menjalani pengobatan, sang ayah meminta Kate untuk pulang ke kampung halamannya, meninggalkan pekerjaan dan pacar yang ia sayangi  di New York untuk merawat sang ibu yang sakit. Kate awalnya berkeberatan, apalagi selama di rumah ia harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, membereskan rumah, dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial yang diikuti oleh ibunya. Hal-hal yang sangat tidak ia sukai karena menurutnya ia seperti menjadi duplikat ibunya (selama ini ia menganggap kehidupan yang dijalani ibunya sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan yang membosankan). 

Selama berada di rumah dan merawat ibunya inilah Kate dapat melihat sisi lain dari kedua orang tuanya dan bagaimana kehidupan pernikahan kedua orang tuanya berjalan. Bahwa ternyata sang ayah tidak seideal  dan sesempurna yang ia bayangkan (kenyataan bahwa ayahnya memiliki affair dengan mahasiswinya dan memiliki kebiasaan minum-minum di klub malam sempat membuat Ellen terpukul), sang ibu yang begitu menyayangi dan menerima sang ayah apa adanya (ibunya telah mengetahui affair dan kebiasaan sang ayah namun tetap mencintainya tanpa syarat). Semakin hari, hubungan antara Ellen dan ibunya semakin membaik. Di akhir hayat sang ibu, Ellen mengatakan bahwa ia sangat menyanyangi ibunya, dan ibunya berkata ia tahu, ia selalu tahu bahwa Ellen menyanyanginya, begitupun ia selalu menyayangi Ellen (huaaa, adegan ini sukses membuat air mata saya tumpah ruah)

Film ini berkisah dari sudut pandang Ellen, ya Ellen menjalani semacam interogasi berkaitan dengan kematian ibunya pasca dilakukan otopsi, diduga akibat overdosis morfin (obat penghilang rasa nyeri yang diberikan pada pasien kanker stadium lanjut untuk mengurangi rasa nyeri akibat kanker).

sedikit catatan dari saya:
Film ini sukses membuat mata saya bengkak, air mata tumpah ruah tak terkendali. Saya merasa ada ikatan emosi dengan cerita dalam film ini. Ceritanya begitu mirip dengan apa yang saya alami, walaupun tidak seratus persen sama. Mama saya telah berjuang selama kurang lebih tujuh tahun untuk melawan kanker payudara yang dideritanya. Sejak pertama kali, didiagnosis dokter bahwa benjolan kecil yang tumbuh di payudara kirinya adalah kanker payudara pada tahun 2005 silam, lalu kemudian memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara. Pada saat itu saya pikir kami telah melakukan tindakan yang tepat, bahwa kanker telah dibuang bersamaan dengan diangkatnya payudara kiri mama. Namun, ternyata tidak, tahun 2008 mama sering mengeluh nyeri punggung. Awalnya kami pikir itu hanya kecapekan biasa, apalagi mama adalah orang yang sangat aktif dan sering berpergian jauh, namun semakin hari keluhan itu semakin sering dirasakan dan semakin mengganggu. Kala itu saya sedang menjalani koass tahun pertama, sempat terpikir dalam benak saya, jangan-jangan kanker mama sudah menyebar (dua penyebaran jauh kanker payudara adalah di paru dan tulang belakang), tapi setiap kali pikiran itu muncul, langsung saya tepis dan buang jauh-jauh, ditambah lagi hasil pemeriksaan foto tulang belakang mama masih baik dan tidak ada kelainan apa pun. 

Tapi dari hari ke hari keluhan mama semakin parah, setelah diperiksakan ke dokter onkologis (bedah kanker), ternyata dugaan saya selama ini benar, kanker mama telah menyebar jauh ke tulang belakanng. Sejak itu, mulailah hari-hari pengobatan kemoterapi di RS. Tiga seri kemoterapi (masing-masing seri terdiri dari 8 kali kemoterapi) mama jalani. Rambut rontok dari kepala,alis hingga rambut-rambut di tempat tersembunyi, muntah dan mual setiap kali mencium bau makanan. Tapi mama begitu tegar menjalani itu semua. Selalu senyum, tertawa, bahkan pasca kemoterapi mama masih sanggup menyetir mobil sendiri (yak, persis dengan apa yang dilakukan oleh Kate di film ini).

Sama seperti Ellen juga, saya akhirnya memutuskan untuk pulang setelah kuliah saya selesai dan gelar dokter saya raih untuk menemani dan merawat mama (berbeda dengan kisah di film, papa saya sudah meninggal sejak saya masih SMA). sedangkan adik saya, lebih memilih untuk bekerja di Jakarta. Seperti Ellen saya melihat sendiri bagaimana perlahan-lahan kondisi mama mulai menurun akibat kanker yang dideritanya. Sedih rasanya ketika melihat orang yang saya sayangi yang biasanya terlihat aktif dan mandiri harus tergantung. Ini juga yang sering membuat mama merasa lemah semangatnya. Disinilah saya berusaha membangkitkan mama bahwa janji Allah adalah setiap penyakit pasti ada obatnya, bahwa bukan dokter yang menentukan berapa lama umur manusia tapi hanya Allah :).

Ada satu dialog antara Ellen dan ibunya yang membuat saya tersentuh karena mengingatkan saya dengan mama, saat itu Kate berkata kepada Ellen, "Ibu sedih karena takut tidak bisa melihatmu menikah dan membantumu mempersiapkan pernikahanmu. Impian setiap ibu adalah melihat anak gadisnya menikah."

Ya, itu juga yang menjadi keinginan mama melihat saya menikah, namun sayang saya belum dapat mewujudkan keinginan mama tersebut karena Allah telah lebih dulu memanggil mama. Tapi saya yakin, nanti ketika saya menikah dengan orang yang tepat, mama dan papa pasti tetap bisa melihatnya dari atas sana :).

I miss you, papa&mama. always :)

ps: love your parents.show your love,you'll never know what will happen tomorrow :)




 
design by Grumpy Cow Graphics | Distributed by Deluxe Templates