Mei 25, 2012

Blog yang terabaikan

Yap tepat banget judul di atas. setelah hampir setahun apa mungkin dua tahun saya mengabaikan blog ini. Ingat kalau punya blog tapi jangankan menulis menjenguk saja tidak. Malas. Lebih asyik berkicau di dunia seratus empat puluh karakter bernama twitter. Mungkin juga blog ini akan tetap jadi pajangan di akun twitter saya, hingga suatu hari seorang teman iseng-iseng mampir dan bilang kalau tulisan saya cukup menarik. Jujur aja ini sedikit membuat saya geer :P Jadi, kembalilah saya disini. kembali berusaha menulis lagi. tapi mungkin dengan gaya yang berbeda seiring dengan bertambahnya usia :p. (dengan berat hati harus saya akui kalau saya bukan lagi anak kuliahan di usia awal 20-an "p) selamat menikmati.silakan dibaca dan bolehlah meninggalkan sedikit jejak dengan memberi komentar pada tulisan-tulisan saya yang dianggap menarik :)

Juni 07, 2010

New Template, New Spirit!! *Harus Rajin Ngeblog!!!

I Love my new template..*yeeaaaay* :)

Terima kasih buat pacar tersayang (cieeh), mas Andika Aji Pambudi, yang telah berbaik hati mau bersusah payah mencari tampilan baru buat blog ini :). Jadi inget ketika saya dan si mas mencari tampilan baru buat blog ini. Sementara si mas sibuk mencari dan googling, saya yang di sampingnya (yang notabene pemilik blog ini) malah asyik merem2 sambil nguap2 bahkan mungkin tertidur (haduuh, maap ya mas).

Daaan, setelah sekian lama abai dengan blog ini dan malah berasyik masyuk bercuap2 di media burung a.k.a twitter

Saya berjanji dengan sepenuh hati untuk mulai bersikap adil, antara cuap2 di twitter dan di blog. Apalagi saya lagi ga ada kerjaan :P

Kalo begitu, sampai jumpa di postingan selanjutnya....ciaaao

September 15, 2009

Adatku sayang, Adatku ribet

Tulisan ini melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya, tentang melestarikan budaya bangsa (baca tulisan saya sebelum ini). Sebenarnya tidak ada maksud saya untuk membuat sekuel-sekuelan atau cerita bersambung. Namun, kejadian yang saya alami (hm, mungkin lebih tepatnya obrolan yang terjadi) pada hari Sabtu kemarin antara saya dan beberapa orang memancing saya untuk berkomentar di sini :).

Sabtu pagi kemarin di Poliklinik Jiwa di RSU tempat saya koass, saya dan kedua teman sekelompok sedang menanti datangnya sang dokter spesialis untuk menguji kami di hari itu (biasaaa pekerjaan koass kan menunggu ;p). Sambil menunggu dan untuk menghilangkan ketegangan (belajar di detik-detik akhir sebelum ujian, saya rasa sudah tidak lagi efektif) kami bertiga mengobrol (baca ngerumpi) dengan Ibu Titik (perawat di Poli Jiwa). Ibu Titik ini sebentar lagi akan "mantu" (bahasa Jawa: menikahkan anak perempuannya). Iseng saja, saya tanyakan pada beliau "Bu, nanti nikahnya Novi (anak Bu Titik)pake adat Jawa lengkap ga Bu?" "Gaklah, mba. Repot. Banyak yang mesti disiapkan. Yang biasa aja, yang penting akad dan resepsi trus nikahnya syah." Ibu Titik menjawab pertanyaan saya.
"Iya bu, Sari juga kalo nikah ga mau pake adat. ribet. Dulu yang nikahannya pake adat itu adek bungsunya mama. Lengkap dari mulai siraman, malam midodareni, sampe ritual-ritual kayak pijak telur." Sambung Sari, teman sekelompok saya. "Iya, mba Sari. dalam ajaran agama kan juga gak ada kewajiban-kewajiban seperti itu." sambung Bu Titik lagi. Dan obrolan pun terus berlanjut mengenai betapa ribetnya segala adat istiadat Jawa mengenai pernikahan.

Saat itu saya hanya diam. Sejujurnya siy, mulut saya gatel sekali ingin berkomentar begini " Naaah, ini salah satu contoh yang mempercepat punahnya budaya bangsa kita" Hmm, terlalu kejam ya, makanya saya ga jadi saya katakan :P. Seperti yang pernah saya tulis, KITA juga turut andil dalam acara klaim-klaiman budaya itu. KITA (sekali lagi saya tulis ini dengan huruf kapital). Dengan berbagai macam alasan dari repot, ribet, butuh banyak biaya, ga ada dalam tuntunan agama, KITA memilih untuk tidak melakukan tradisi dan budaya nenek moyang. Lalu, ketika orang luar yang tertarik dan jatuh cinta dengan segala filosofis yang terkandung dalam kesenian dan kebudayaan yang kita miliki mulai mempelajari dan (mungkin dengan khilafnya) mengakui itu jadi bagian budaya mereka (karena budaya kita itu kan adorable banget!), kita baru merasa panas, kebakaran jenggot, dan marah. Padahal tanpa kita sadari kita sendiri yang telah membiarkan hal itu terjadi.

Saya akui saya dulu juga punya pandangan yang sama. Adat dan serangkaian prosesi adat pernikahan Jawa (dan juga adat-adat dari suku lain yang ada di Indonesia) terlihat ribet dan memerlukan banyak biaya. "Kan yang penting syah. Yang penting ijab dan kabul.Sayang duitnya, mending untuk keperluan yang lain." Sebagian dari kita, banyak yang berpikiran seperti itu, terutama yang muda-muda. Tapiii, sebenarnya di balik segala keribetan yang ada terkandung makna yang dalam dan sarat filosofis dari setiap prosesi yang dilaksanakan :).

Ini saya sadari ketika tanpa sengaja saya bermain-main ke blog tentang pernikahan (Our Love Journal). Di dalam blog ini diceritakan pengalaman si pemilik blog dalam menyelenggarakan pernikahan berikut prosesinya. Berhubung si pemilik blog berasal dari suku Jawa maka prosesi yang diceritakan adalah prosesi Jawa mulai dari puasa, malam midodareni, acara siraman, temu penganten (setelah ijab kabul selesai), saling melempar sirih, pijak telur, dan masih banyak lagi (saya belum hapal urutan acar satu persatu)-kalau mau tahu lebih jauh, silakan buka blog our love journal. Tapi menurut saya, keseluruhan prosesi ini sangat menarik dan menginspirasi saya :).

Jadi inget si mama, beliau pernah (mungkin sampai sekarang masih bercita-cita) ingin mengadakan acara pernikahan saya dengan si mas (prikitiiw ;p) lengkap dengan segala prosesinya. Waktu saya menyampaikan protes dan keberatan saya, mama berkilah bahwa mama hanya ingin melestarikan budaya Jawa karena sekarang sudah sangat jarang acara pernikahan lengkap seperti itu. Hmmm, alasan yang masuk akal. Siapa lagi yang akan melestarika kebudayaan dan adat istiadat kita kalau bukan kita sendiri. Memang, sebagian beralasan dana dan kepraktisan karena untuk mengadakan acara lengkap seperti itu pastilah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Semua ini tergantung pada individu masing-masing, Namun, menurut saya tidak ada salahnya apabila kita mempunyai uang dan dana berlebih untuk mengadakan acara pernikahan lengkap. Jangan pikir ribetnya, anggap saja ini wujud kecintaan terhadap budaya bangsa. Kita gak mau kan, suatu saat negara tetangga kita mengklaim ini juga sebagai bagian dari budaya mereka???

Please, do something. Not only Talk, but do Some actions :)

September 11, 2009

Siapa yang harus disalahkan????

Sebelumnya saya ingin bercerita bahwa draft tulisan ini sudah ada di otak saya berminggu-mingu sebelumnya, namun karena beberapa alasan, baru saat ini saya sempat menuangkannya dalam blog ini.

Jadi begini ceritanya, beberapa waktu lalu kan kita dihebohkan oleh kasus klaim-klaiman dengan negara tetangga kita (negeri sebelah itu loh yang masih satu rumpun juga dengan kita). Dikatakan bahwa si negeri tetangga ini dengan tidak sopannya telah mengklaim beberapa budaya warisan nenek moyang kita seperti reog Ponorogo, Batik, Tari Pendet (ini hanya contoh kecil saja) sebagai budaya mereka dan dimasukkan dalam iklan promosi pariwisata mereka.

Tentu saja, hal ini memancing reaksi dari besar komponen bangsa ini. Status-status yang bernada membangkitkan nasionalisme ramai di situs-situs jejaring pertemanan dan microblogging (macam twitter). Masing-masing heboh membahas dan memberikan pendapat mereka, bahkan tidak sedikit dari pendapat itu yang bernada menghujat.

Namun, di antara sekian banyak yang memberi pendapat, ada satu pendapat yang mengena dan sedikit menyentil saya. Saya lupa bagaimana pasti isinya, namun kira-kira begini : kita juga turut andil dalam hal ini karena kita sendiri yang kurang melestarikan budaya bangsa."

Hmmm,kalau dipikir ini ada benarnya juga. Duluuuu, ketika aksi klaim-klaiman ini belum terjadi. Kita (termasuk saya juga) sedikit acuh dengan budaya bangsa ini. Jangan buru-buru protes ataupun membantah kata-kata saya tadi :). Mari kita lihat fakta-fakta yang ada, tentunya dengan hati yang lapang dan kejujuran. Dan inilah faktanya:

1. Coba deh hitung ada berapa dari kita yang bisa berbahasa daerah? bahasa jawa(kromo maupun ngoko?), bahasa sunda, atau bahasa daerah yang lain? atau ada berapa dari kita yang khusus mengambil les bahasa daerah, bahasa jawa contohnya (karena saya berasal dari jawa)?
Dengan jujur saya jawab tidak. Saya dari kecil malah sibuk belajar bahasa inggris dan ketika kuliah malah belajar bahasa Jerman. Belum pernah terpikir untuk belajar lebih banyak bahasa nenek moyang saya. Kenapa? karena bisa bahasa Inggris dan bahasa asing lain menurut saya lebih keren daripada belajar bahasa jawa (itu menurut saya dulu).

2. Lalu, ada berapa di antara kita yang belajar kebudayaan daerah semisal, tari daerah (serimpi, pendet,piring, dll), belajar memainkan alat musik daerah macam kolintang, ukulele, angklung, gamelan? Saya yakin bila ada, jumlahnya mungkin tidak banyak. Semuanya pasti lebih mahir main piano, gitar elektrik, atau drum daripada sibuk-sibuk belajar alat musik daerah. Padahal orang luar negeri (bule) itu begitu bersemangat mempelajari kebudayaan kita itu. Ini juga saya alami sendiri. Ketika kecil, saya malah memilih les piano.

3. Selanjutnya, ada berapa di antara kita yang menonton pagelaran wayang (orang maupun kulit), ludruk atau kesenian tradisional khas lainnya. Sebagian besar kan lebih senang berada di bioskop yang dingin dan ber-AC daripada menonton pagelaran seperti itu di taman hiburan rakyat. Kalau saja, kita menonton wayang dll, tentu para pelaku kesenian daerah itu tidak hidup pas-pasan. Saya pernah membaca liputan tentang ini di Kompas (entah edisi yang mana), bagaimana para pelaku seni ini berjuang untuk melestarikan budaya sekaligus mempertahankan sumber mata pencaharian mereka di tengah gerusan arus modernisasi. Wayang orang Langen Budoyo yang terkenal di jaman mudanya mama saya sekarang hanya tinggal nama begitu juga dengan kesenian ludruk di Surabaya.

4. Dan yang terakhir, berapa di antara kita yang lebih bangga makan tempe dibandng pizza, lebih memilih rujak dibanding salad buah???

Pertanyaan-pertanyaan tadi bukan bermaksud menghakimi melainkan sebagai bahan renungan kita bersama. Bagaimana kita telah abai terhadap warisan nenek moyang. Bila diambil sisi positifnya, peristiwa klaim-klaiman oleh negara tetangga dapat menjadi cambuk bagi kita untuk lebih melestarikan budaya bangsa.

dan terakhir mungkin kelak anak-anak saya akan saya ajarkan bahasa daerah selain bahasa Indonesia, diajarkan kolintang sebelum gitar?:D

Agustus 05, 2009

Pertanyaan Tiada Henti

Malam ini saya kembali menyentuh blog ini setelah sekian lama saya cuekin ;p. Yaa, jujur siy, saya lagi bingung mau nagapain malam ini. Mau telpon pacar, tapi dia lagi belajar buat jadi narasumber minggu depan. Jadi sambil iseng dan menunggu dia selesai belajar, saya memutuskan untuk nulis aja.

Bingung juga mau nulis apa?

Oiya, saya punya cerita ketika saya mudik ke Pontianak kemarin. Setiap pulang, saya menjadi ajudan mama saya maksudnya, saya nemenin mama kemana-mana, ke kantor, ke pertemuan dan rapat, undangan, resepsi, pokoknya dimana ada mama, pasti disitu ada saya. jadi seperti lagunya mbah surip, "tak gendong kemana-mana". Anyway, met istirahat ya mbah. semoga amal ibadah mbah diterima di sisi Allah SWT dan mendapatkan tempat yang layak di sisinya..amin.

Lanjut, ke cerita saya. Jadi selama saya menemani mama, tentu saja saya banyak bertemu dengan teman-teman mama. Dan pertanyaan yang paling populer yang ditujukan pada saya sekarang adalah :"Ri, kapan niy nikah. Kata mama udah ada calon ya? Tante siap lho bantu2." Pertanyaan itu tidak hanya diajukan oleh satu orang tapi banyak orang, tidak hanya teman tapi juga keluarga. Hiyyaaa... Dulu, waktu belum punya pacar, setiap ketemu pasti ditanya, "udah punya pacar belum Ri?". Terus kalo saya jawab belum. Mereka (teman dan keluarga )pasti pada ribut. "kok belum punya RI?jangan terlalu asyik belajar lho, sampai lupa nyari pacar. nanti kalo udah jadi dokter tambah susah cari pacar." begitulah nasihat yang saya dengar dari para tetua.

Inilah yang namanya lingkaran pertanyaan tiada henti. Nanti ketika saya sudah menikah, pertanyaan akan berganti menjadi begini "RI, udah isi belum?", setelah punya anak satu nanti ditanya lagi, "Kapan niy punya adik lagi?", terus dan terus seperti itu.

Heran deh, kenapa ya harus ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Meskipun, jujur saya juga terkadang mengajukan pertanyaan yang sama kepada orang lain. Mungkin ga ya, pertanyaan itu muncul sebagai bentuk keramahtamahan, maksudnya basa-basi, sekedar membuka suasana daripada ga tau mesti ngobrol apa. Keramahtamahan yang mungkin ujung-ujungnya mengganggu.
 
design by Grumpy Cow Graphics | Distributed by Deluxe Templates