September 13, 2012

Endah N Rhesa - When You Love Someone





I love you but it's not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you're still in my dream
And I can't stand to wait ‘till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say... “hello”
And I can't stand to wait your love is coming to my life
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

And I never thought that I'm so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can't be wrong
Don't ever give up just try and try to get what you want
Cause love will find the way....
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...




ps: lagi suka banget dengar lagu ini.setelah berhari-hari mendengar lagu patah hati menyayat hati. :)

September 09, 2012

Tidak Ada yang Namanya Kebetulan


"Hei, kamu dulu anak SMA 1 ya?" tanya saya dengan begitu percaya dirinya pada laki-laki di depan saya, saat kami sama-sama mengambil makan malam di ruang makan diklat.

Dia tampak kebingungan karena mendapat sapaan tak terduga  dari saya-orang yang sama sekali tak dikenalnya- "bukan" jawabnya . "Bukan anak SMA 1?" saya kembali mengulang pertanyaan yang sama. dan kembali ekspresi aneh muncul di wajahnya, sebelum akhirnya menjawab "bukan."

"Anak SMP 3 ya?" tanya saya masih tidak kenal lelah.  "bukan". dan dia masih saja menjawab dengan jawaban yang sama.
"SD nya dulu dimana?SD Muhammadiyah bukan?" "Bukan. dulu SD-SMP Immanuel."
"Punya abang yang SMA1 ga?" "Gak tuh." jawabnya

Aaaah, salah orang dong *maluuu. tutupin muka :p*. Padahal saya tadi begitu yakin bahwa dia dulu kakak kelas saya sewaktu SMA. Mukanya terasa begitu akrab, sepertinya saya sudah pernah melihat dia sebelum ini, entah dimana.

Tragedi salah mengenal orang dan menyapa dengan begitu percaya dirinya, mungkin akan berhenti hanya sampai disini, bila saya tidak menyapa dia untuk kedua kalinya di ruang aula saat kami mengikuti pengarahan umum dari BKD Propinsi. Ok, saya tidak tahu ada apa di kepala saya sampai saya kembali mengajukan pertanyaan yang sama, yang jelas-jelas kemarin sudah dia jawab dengan bukan. IYA, saya masih penasaran. Hati kecil saya yakin saya pernah bertemu dengan dia entah dimana. Dan  sebagai klarifikasi, jelas-jelas ini bukan seperti saya biasanya, seorang Astari Nurtilawati biasanya begitu cuek, jarang sekali membuka obrolan dengan orang baru, apalagi sampai mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Tapi kejadian hari itu memang luar biasa :). Dan karena hal itulah dia menjuluki saya dokter SKSD *huh* :D.
Memang, setelah kejadian perkenalan yang ajaib itu kami jadi berteman akrab. Sejak mengenal dia pun, hari-hari saya saat mengikuti pra jabatan yang saya pikir akan sangat suram dan membosankan menjadi penuh warna dan cerita.

Kadang saya bertanya,
Apa jadinya kalau saya tidak pernah iseng-iseng menyapa dia di ruang makan?
Jika saya hanya menyimpan rasa penasaran dan hanya bertanya-tanya sendiri di dalam hati?
Apa jadinya kalau dia pada saat pengarahan umum tidak pindah duduk di sebelah saya?
Mungkin kami tidak akan saling mengenal yang berlanjut dengan saling bertukar cerita selama kelas berlangsung.
Seandainya begini, seandainya begitu...

Lalu,
Apakah pertemuan  ini adalah sebuah kebetulan?
Saya yakin tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua hal yang terjadi, baik itu pertemuan maupun perpisahan pasti adalah takdir yang telah dituliskan, termasuk pertemuan saya dan dia waktu itu.

Seperti yang pernah saya katakan kepada dia, "Tuhan mempertemukan kita karena Tuhan  tahu kamu mampu membuatku tersenyum bahkan di saat aku sudah tak punya alasan lagi untuk bisa tersenyum, kamu ada menemaniku di masa-masa paling kelam dalam hidupku, membantuku melewati peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan, dan dengan caramu berusaha untuk menyemangatiku. Terima kasih untuk itu semua ":)



September 07, 2012

Ibu Selalu Tahu yang Terbaik?


Pernah mengalami berselisih paham dengan ibu tercinta mengenai pria (pasangan) yang (sedang) dicintai?

Saya yakin hampir sebagian besar pernah mengalami hal ini, berbeda pendapat dengan orang tua, dalam hal ini lebih sering  dengan ibu, mengenai pria yang dicintai, termasuk juga saya sendiri. Bukan suatu keributan besar, yang sampai harus memaksa saya menjadi anak durhaka yang pergi meninggalkan rumah (drama banget :p). Tetapi meskipun sering berselisih paham dengan mama, sejujurnya mama pulalah tempat pertama saya mengadu dan menangis tersedu-sedu bila saya patah hati.

Seperti kejadian beberapa tahun lampau, saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan teman kuliah saya, seorang musisi, manajer band indie yang kebetulan mahasiswa kedokteran. Gayanya ajaib dan nyentrik, khas anak band, padahal mahasiswa kedokteran itu  dikenal selalu tampak rapi cenderung klimis. Dia datang ke kampus dengan penampilan seadanya, jaket, jeans, dan sepatu converse. Jarang masuk kelas, dan bila dia masuk pun kerjaannya di kelas tidak lain adalah duduk di paling belakang atau di posisi yang paling membuatnya nyaman untuk tidur. Dunia kami berbeda jauh, ibarat bumi dan langit. Rasanya tidak ada kemungkinan untuk kami bertemu, hingga akhirnya suatu saat entah karena cupid sedang iseng, kami pun menjadi akrab dan berteman. Dari pertemanan inilah, saya tahu bahwa di balik segala dandanan dan perilaku ajaibnya, dia adalah orang yang menarik, senang membaca, punya pergaulan yang luas, dan selera musik yang tidak biasa (fyi, saya juga penikmat band indie, itulah satu kesamaan yang akhirnya semakin mendekatkan kami).

Kedekatan kami ini, saya juga ceritakan kepada mama. Hal inilah yang sukses membuat mama khawatir. Beberapa kali saya beradu argumen dengan mama. Saya membela si musisi sepenuh hati di depan mama. Saya puji dia mati-matian, dengan mengabaikan fakta bahwa hati saya sering jungkir balik karena ulahnya. Suatu hari dia bisa bersikap luar biasa manis dan penuh kejutan, seperti memberikan sekotak coklat bentuk bintang berhias pita biru sebagai oleh-oleh sepulang dia dari Jakarta menemani band yang dimanajerinya manggung di sana, lalu kemudian menghilang berhar-hari, tidak masuk kelas, tidak bisa ditelpon, dan tidak membalas sms. Lalu tiba-tiba setelah sekian lama menghilang, di suatu malam minggu dia sms dan mengajak saya ke acara Indiepop Raising Club. Selalu begitu, datang dan pergi semaunya, membuat saya makin lama lelah. Dan kepada mamalah selalu saya embali untuk mengadu.

Hebatnya mama, mama selalu tahu ketika saya patah hati dan menangis, padahal kami tidak tinggal sekota, saya di Jogja dan mama di Pontianak. Kadang mama tiba-tiba menelpon hanya untuk meyakinkan apakah saya baik-baik saja. Hanya dari mendengar suara saya, mama bisa menebak suasana hati saya, bahagia atau sedih. Pernah suatu kali, saya bertanya bagaimana mama bisa tahu kalau saya sedang sedih ? (iya, malam sebelum mama menelpon saya baru saja menangis semalam)
Lalu apa jawaban mama?
Kamu pernah menjadi bagian dari diri mama selama 9 bulan. Makan makanan yang sama dengan mama makan, mama merasakan setiap gerakan kamu sewaktu masih di dalam. Mana mungkin sekarang mama tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan? (lalu saya mewek).

Mama pun melanjutkan lagi, "Menyerahkan anak gadis kepada orang lain untuk dijadikan suaminya itu tidak mudah karena begitu anak gadis dinikahi maka seketika itu pula tanggung jawab orang tua sudah berpindah tangan ke suaminya. Orang tua sudah tidak berhak lagi terhadap anak gadisnya. Jadi, jangan sampai anak gadisnya jatuh ke tangan yang salah. Jangan sampai kelak nanti kamu tidak bahagia ataupun disakiti. Itulah mengapa mama menjadi cerewet sekali terhadap pria yang dekat dengan kamu. Beda dengan kiki (adik saya), kalau kiki kan cowok, kalau misalnya dia lalai terhadap istrinya, mama masih bisa mengingatkan, kalau suami kamu?Mama tidak punya hak sama sekali. Mama hanya ingin kamu bahagia."

Setiap orang tua sebenarnya hanya ingin melihat anaknya bahagia sehingga kadang terlihat jadi terlalu pemilih terhadap pasangan yang dipilih anaknya (dalam hal ini putrinya). Jadi ketika jatuh cinta, tidak ada salahnya tetap membuka mata dan telinga mendengarkan segala nasihat orang tua yang mungkin terkadang ada benarnya. Saat jatuh cinta kita seperti memakai kacamata kuda, hanya mampu fokus melihat kelebihan orang yang kita cintai tanpa bisa melihat kekurangan yang dimilikinya. Orangtua dalam hal ini ibu kadang melihat dari objek yang berbeda, lebih objektif dibanding kita yang sedang dimabuk cinta :p.

Ibu selalu tahu yang terbaik?
Menurut saya ibu hanya ingin memberikan yang terbaik. hanya ingin melihat anaknya bahagia :)

September 06, 2012

ketika kita menjadi aku dan kamu


"lalu kita akan bagaimana? mau dibawa kemana ini semua?"
Pertanyaan yang sama yang sering muncul dalam percakapan kita dua bulan terakhir. Pertanyaan yang selalu berakhir dengan jawaban yang menggantung.
Dan malam itu, kembali pertanyaan yang sama muncul dalam pembicaraan kita...
 "kemana akan kita bawa hubungan empat tahun ini?"
Hening sejenak, lalu kamu bertanya "kamu siap dengan segala jawaban?dengan segala keputusan?"
"Siap bila itu memang yang terbaik untuk kita." kembali hening yang lama, kamu menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab "mungkin lebih baik kita sampai disini."
"Ya, sudah kalau memang jodoh kita bisa bertemu lagi. Jika tidak mungkin ini yang terbaik, kita bukan yang terbaik bagi satu sama lain."

Sepenggal percakapan malam itu, saat kita memutuskan untuk menyerah, mungkin kita memang lelah..

Terima kasih untuk empat tahun luar biasa,
dimana kita pernah saling berbagi duka dan tawa,
mungkin ini akhir cerita kita,

Saatnya melanjutkan langkah,
mengejar segala mimpi dan cita,
meski kini bukan untuk kita,
karena tak ada lagi kita,
kini tinggal aku dan kamu 


One True Thing, Sebuah Review


Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali menulis lagi. Salahkan kue lapis yang membuat saya lebih ingin mengunyah, salahkan koneksi internet yang membuat gerah, salahkan juga pulsa internet yang ternyata habis, yang penting jangan salahkan saya yang malas ini :D.

Baiklah, kali ini saya ingin membuat review film yang sangat menarik menurut saya. Rencana membuat review film ini sudah ada di benak saya berminggu-minggu yang lalu sejak pertama kali saya menonton film ini di HBO pada hari kedua lebaran, tapi apa daya karena keterbatasan pulsa dan alasan-alasan yang saya sebutkan di atas keinginan saya untuk menulis baru tersalurkan hari ini.






Film ini merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Anna Quindlen, disutradarai oleh Carl Franklin dan dibintangi oleh bintang-bintang dengan kemampuan akting yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Merryl Streep, Renee Zellweger, William Hurt, dan Tom Everett Scott. Bercerita tentang sebuah keluarga yang harus menghadapi kenyataan ketika sang ibu didiagnosis kanker.
Renee Zellweger disini berperan sebagai Ellen putri tertua keluarga ini, yang bekerja di New York Magazine, sangat mengagumi sang ayah, seorang dosen dan penulis novel. Merryl Streep berperan sebagai Kate, seorang ibu rumah tangga tulen yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarganya, dan si bungsu Bill yang masih berkuliah di Harvard.

Konflik bermula ketika sang ibu didiagnosis menderita kanker dan harus menjalani pengobatan, sang ayah meminta Kate untuk pulang ke kampung halamannya, meninggalkan pekerjaan dan pacar yang ia sayangi  di New York untuk merawat sang ibu yang sakit. Kate awalnya berkeberatan, apalagi selama di rumah ia harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, membereskan rumah, dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial yang diikuti oleh ibunya. Hal-hal yang sangat tidak ia sukai karena menurutnya ia seperti menjadi duplikat ibunya (selama ini ia menganggap kehidupan yang dijalani ibunya sebagai ibu rumah tangga adalah kehidupan yang membosankan). 

Selama berada di rumah dan merawat ibunya inilah Kate dapat melihat sisi lain dari kedua orang tuanya dan bagaimana kehidupan pernikahan kedua orang tuanya berjalan. Bahwa ternyata sang ayah tidak seideal  dan sesempurna yang ia bayangkan (kenyataan bahwa ayahnya memiliki affair dengan mahasiswinya dan memiliki kebiasaan minum-minum di klub malam sempat membuat Ellen terpukul), sang ibu yang begitu menyayangi dan menerima sang ayah apa adanya (ibunya telah mengetahui affair dan kebiasaan sang ayah namun tetap mencintainya tanpa syarat). Semakin hari, hubungan antara Ellen dan ibunya semakin membaik. Di akhir hayat sang ibu, Ellen mengatakan bahwa ia sangat menyanyangi ibunya, dan ibunya berkata ia tahu, ia selalu tahu bahwa Ellen menyanyanginya, begitupun ia selalu menyayangi Ellen (huaaa, adegan ini sukses membuat air mata saya tumpah ruah)

Film ini berkisah dari sudut pandang Ellen, ya Ellen menjalani semacam interogasi berkaitan dengan kematian ibunya pasca dilakukan otopsi, diduga akibat overdosis morfin (obat penghilang rasa nyeri yang diberikan pada pasien kanker stadium lanjut untuk mengurangi rasa nyeri akibat kanker).

sedikit catatan dari saya:
Film ini sukses membuat mata saya bengkak, air mata tumpah ruah tak terkendali. Saya merasa ada ikatan emosi dengan cerita dalam film ini. Ceritanya begitu mirip dengan apa yang saya alami, walaupun tidak seratus persen sama. Mama saya telah berjuang selama kurang lebih tujuh tahun untuk melawan kanker payudara yang dideritanya. Sejak pertama kali, didiagnosis dokter bahwa benjolan kecil yang tumbuh di payudara kirinya adalah kanker payudara pada tahun 2005 silam, lalu kemudian memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara. Pada saat itu saya pikir kami telah melakukan tindakan yang tepat, bahwa kanker telah dibuang bersamaan dengan diangkatnya payudara kiri mama. Namun, ternyata tidak, tahun 2008 mama sering mengeluh nyeri punggung. Awalnya kami pikir itu hanya kecapekan biasa, apalagi mama adalah orang yang sangat aktif dan sering berpergian jauh, namun semakin hari keluhan itu semakin sering dirasakan dan semakin mengganggu. Kala itu saya sedang menjalani koass tahun pertama, sempat terpikir dalam benak saya, jangan-jangan kanker mama sudah menyebar (dua penyebaran jauh kanker payudara adalah di paru dan tulang belakang), tapi setiap kali pikiran itu muncul, langsung saya tepis dan buang jauh-jauh, ditambah lagi hasil pemeriksaan foto tulang belakang mama masih baik dan tidak ada kelainan apa pun. 

Tapi dari hari ke hari keluhan mama semakin parah, setelah diperiksakan ke dokter onkologis (bedah kanker), ternyata dugaan saya selama ini benar, kanker mama telah menyebar jauh ke tulang belakanng. Sejak itu, mulailah hari-hari pengobatan kemoterapi di RS. Tiga seri kemoterapi (masing-masing seri terdiri dari 8 kali kemoterapi) mama jalani. Rambut rontok dari kepala,alis hingga rambut-rambut di tempat tersembunyi, muntah dan mual setiap kali mencium bau makanan. Tapi mama begitu tegar menjalani itu semua. Selalu senyum, tertawa, bahkan pasca kemoterapi mama masih sanggup menyetir mobil sendiri (yak, persis dengan apa yang dilakukan oleh Kate di film ini).

Sama seperti Ellen juga, saya akhirnya memutuskan untuk pulang setelah kuliah saya selesai dan gelar dokter saya raih untuk menemani dan merawat mama (berbeda dengan kisah di film, papa saya sudah meninggal sejak saya masih SMA). sedangkan adik saya, lebih memilih untuk bekerja di Jakarta. Seperti Ellen saya melihat sendiri bagaimana perlahan-lahan kondisi mama mulai menurun akibat kanker yang dideritanya. Sedih rasanya ketika melihat orang yang saya sayangi yang biasanya terlihat aktif dan mandiri harus tergantung. Ini juga yang sering membuat mama merasa lemah semangatnya. Disinilah saya berusaha membangkitkan mama bahwa janji Allah adalah setiap penyakit pasti ada obatnya, bahwa bukan dokter yang menentukan berapa lama umur manusia tapi hanya Allah :).

Ada satu dialog antara Ellen dan ibunya yang membuat saya tersentuh karena mengingatkan saya dengan mama, saat itu Kate berkata kepada Ellen, "Ibu sedih karena takut tidak bisa melihatmu menikah dan membantumu mempersiapkan pernikahanmu. Impian setiap ibu adalah melihat anak gadisnya menikah."

Ya, itu juga yang menjadi keinginan mama melihat saya menikah, namun sayang saya belum dapat mewujudkan keinginan mama tersebut karena Allah telah lebih dulu memanggil mama. Tapi saya yakin, nanti ketika saya menikah dengan orang yang tepat, mama dan papa pasti tetap bisa melihatnya dari atas sana :).

I miss you, papa&mama. always :)

ps: love your parents.show your love,you'll never know what will happen tomorrow :)




 
design by Grumpy Cow Graphics | Distributed by Deluxe Templates